![]() |
| Sumber gambar : eteknix.com |
Stigma negatif memang selama ini
masih melekat pada game. Game sering kali dikaitkan dengan isu kesehatan fisik
maupun psikis, seperti dapat menyebabkan gangguan kecemasan, obesitas, gangguan
tidur, merusak kesehatan mata, memicu perilaku negatif seperti kekerasan atau
tindakan kriminal.
Seperti yang kita tahu bahwa pada
bulan Juni 2018 yang lalu WHO (World Health Organization) secara resmi telah
menetapkan kecanduan game sebagai salah satu gangguan mental. Hal tersebut
didasarkan pada dokumen klarifikasi penyakit intenasional ke-11 yakni
International Classified Desease (ICD), gagguan ini dinamakan sebagai gaming
disorder yakni perilaku bermain game dengan gigih dan berulang sehingga
menyampingkan kepentingan hidup lainnya.
Dikutip dalam Kompas.com, kecanduan game bisa disebut
sebagai penyakit bila memenuhi 3 hal di antaranya apabila seseorang tidak dapat
mengendalikan kebiasaan bermain game, mulai memprioritaskan game di atas
kegiatan lain dan akan terus bermain game meskipun terdapat konsekuensi negatif
yang jelas terlihat. Di mana 3 kriteria ini harus terlihat selama setahun
sebelum diagnosis dibuat. Permainan yang dimaksud dalam konteks ini mencakup
berbagai jenis permainan yang dimainkan seorang diri maupun berkelompok, baik
itu online maupun offline.
Namun tidak semua kegiatan
bermain game dapat dikategorikan sebagai gangguan mental, karena menurut
statement yang dikeluarkan WHO, bermain game disebut gangguan mental apabila
permainan tersebut mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial,
pekerjaan dan pendidikan.
Selain sulit dikendalikan,
menurut Hesti Anggraini, psikiater RSJD Amino Gandohutomo seperti yang dikutip
dalam regionalkompas.com, seseorang
bisa mengalami game addiction jika menghabiskan waktu 8 jam sehari bermain
game.
Pandangan lain datang dari
Killian Mulan, seorang periset dari Universitas Oxford, berdasarkan riset
terhadap anak dan remaja usia 8-18 tahun, ia beragumentasi bahwa tidak ada
masalah terhadap perilaku kecanduan game. Ia menambahkan bahwa sebagian pecandu
game umumnya berhasil membagi waktu antara bermain game dan kehidupan
sehari-hari.
Seperti yang dituliskan dalam Kompas.com ini, pandangan Mulan tersebut
didukung oleh pengkategorian permainan game sebagai cabang dari esports, karena
sama halnya dengan olahraga pada umumnya, para atlet esports diharuskan
memiliki kondisi fisik bugar serta nutrisi yang cukup. Hal tersebut dikarenakan
bermain game menguras stamina, mencurahlan pikirannya untuk menjalankan
strategi bermain.
Menanggapi tiga statement resmi
dari para ahli di atas, Muhammad Angga Gustiaji atau NXL Vizele, leader in game
CODM, berargumen bahwa terlalu sering bermain game tidak bisa langsung
dikatakan sebagai sebuah penyakit. Hal tersebut tergantung dari pribadi gamer
itu sendiri apakah ia bisa tetap menjaga kesehatannya dan dapat membagi waktu
antara bermain game dan kehidupan sehari-hari.
Angga sendiri mengaku bermain
game 4 hingga 6 jam sehari dan maksimal 12 jam hanya pada saat mengejar top
rank. Namun dengan durasi bermain tersebut, ia tidak setuju jika dikategorikan
sebagai seorang pecandu game karena ia masih membatasi waktu bermainnya dengan
aktivitas lain di luar game seperti mengurus pekerjaan dan berkumpul bersama
teman-temannya.
“Kalau saya main game dirumah
aja, kalau nongkrong sama temen yaudah nongkrong gitu. Kalau nongkrong sama
temen main game sendiri, di mana-di mana main game itu baru kecanduan game
namanya”, jelasnya.
Sebagai seorang atlet Esports,
Angga memang dituntut untuk secara rutin berlatih, namun menurutnya jika sudah
kecanduan juga tetap berdampak buruk bagi atlet Esports itu sendiri. Bermain
game selama 4 jam sehari sudah cukup menurut Angga dan timnya, karena jika
terlalu over hal tersebut justru membuat mereka stres.
“Buruk sih menurut saya, buruknya
buruk bagi kesehatan juga sih, kaya mata gitu kan harus 12 jam spend time buat
main game, itu kaya apa ya, percuma juga gitu. Bikin orang stres kalau main
terus gitu kan. Bagi pro player juga bikin stres juga, ya bisa bikin orang
stres. Kalau 4 jam bagi saya, bagi temen saya ya udah cukup buat pemanasan aim
kaya strategi, push rank, segala macem itu udah cukup buat latian. Kalau lebih
malah over, jadi kaya stres gitu aimnya juga jadi berantakan”, tutur Angga.
Sebagai seorang pro player Angga
tidak menutup mata pada kenyataan bahwa game memang miliki dampak buruk bagi
pemainnya. Ia mengaku pernah merasakan dampak negatif akibat terlalu sering
bermain game, di antaranya sulit tidur dan pusing karena lupa makan dan
kelelahan pada saat ia mengejar top rank global. Namun ia mengatasinya dengan
membatasi waktu bermain untuk beristirahat dan meminum vitamin C setiap
harinya. Ia pun mengaku selalu membawa vitamin setiap kali ia berlatih di NXL
Esports Center.
“Ya atur waktu aja sih, kalau
misalnya jam tidur, jam 12 malem tidur, yaudah tidur sampe jam 6 pagi, atau
sampe jam 9 pagi. Tidur abis itu sarapan, kalau bisa olah raga ya olah raga,
entar musti main lagi”, tambahnya.
Angga kemudian memberi saran bagi
para gamer di luar sana agar lebih dapat membagi waktu antara bermain game
dengan kegiatan lain, serta tidak terlalu memforsir durasi bermain mereka. Hal
tersebut perlu dilakukan agar gamer tidak merasakan dampak negatif yang
dihasilkan oleh game itu sendiri.
“Ya main game buat happy aja lah,
kalau gamau jadi bener-bener pro player yaudah main game santai aja, ngepush
juga sebisanyalah jangan nabrak sama aktivitas luar. Ya gitu sih kalau jadi pro
player harus bener-bener latihan, push rank juga supaya bisa dilirik lah sama
tim-tim esports”, tutupnya.

Komentar
Posting Komentar